Ponorogo

Mengapa Jawa Memahat Singa yang Tidak Pernah Hidup di Tanahnya?

Ponorogo | Detak Negeri.com

Singa sebagai simbol Asing, Kekuasaan dan Kecanggihan Intelektual Jawa kuna. Oleh Sri Widagdo Purwo Ardiyasworo, Mahasiswa program Doktoral Sejarah, Universitas Diponegoro. Di antara relief dan arca yang menghiasi candi-candi Jawa Tengah abad ke 8–10 Masehi, singa menempati posisi yang mencolok dan strategis. Ia berdiri di kaki tangga mengapit pintu gerbang, serta duduk di atas Padma pada Yoni-Yoni batu dari dataran Kedu hingga lereng Dieng.

Foto candi Apit Roro Jonggrang berada di komplek Candi Prambanan Jawa Tengah.

Foto Candi Apit Roro Jonggrang berada di komplek Candi Prambanan, Jawa Tengah. Dua candi di komplek bahkan memiliki empat arca Singa Jantan pada keempat sudutnya, sebuah keunikan yang jarang ditemukan di Nusantara. Namun terdapat sebuah paradoks besar. Singa tidak pernah hidup di Jawa. Pulau ini tidak mengenal Panthera Leo dalam ekosistemnya.

Memang Harimau Jawa (Panthera Tigris dondaica) pernah menghuni hutan-hutan Jawa hingga abat ke 20 dan tentu dikenal masyarakat Jawa Kuna. Tetapi ketika para pemahat candi memilih figur panjaga di ambang pintu suci, yang dipahat justru Singa, binatang yang tak pernah mereka saksikan secara langsung. Paradoks inilah yang patut dibaca secara historiografis. Singa Asia sebagai fauna Asing.

Kajian ilmiah oleh Pusat Penelitian Biologi Lippi bersama Balai Konservasi Borobudur terhadap relief Lalitavistara di Candi Borobudur mengkonfirmasi fakta tersebut. Dari 52 spesies fauna yang teridentifikasi, Singa Asia (Panthera Leo persica) muncul sebanyak 17 individu, jumlah terbanyak kedua setelah Kuda Ternak, berbeda dengan 22 spesies mamalia lain yang merupakan fauna asli Jawa.

Singa menjadi satu-satunya fauna Asing yang tampil menonjol. Lebih awal, Kadarsan, Somodicart Djaya Sasmita dalam kajian fauna Asing pada Relief Candi-Candi di Pulau Jawa (1977) telah menegaskan status singa sebagai fauna import visual. Tumbul Haryono, arkeolog, kemudian memperdalam topik ini melalui dua karya penting:

Singa dalam kesenian Hindu di Jawa Tengah (1980) dan Relief dan Patung Singa pada Candi-Candi Periode Jawa Tengah (2986). Temuan tersebut memperjelas satu hal. Kehadiran Singa bukan hasil pengamatan empiris, melainkan produk transmisi gagasan. Sebuah simbol yang bermigrasi dari India ke Nusantara seiring penyebaran Hindu Budha.

Adaptasi lokal: Singa menjadi Jawa.

Yang menarik, Jawa tidak menyalin secara mentah. Para pemahat lokal menafsirkan ulang Singa dalam bahasa visual setempat. Proporsi sering tidak naturalistik: kepala besar, tubuh ringkas, surai distilisasi dekoratif. Ini bukan kegagalan tehnik. Para pemahat Borobudur jelas memiliki kemampuan observasional. Singa dihadirkan sebagai simbol, bukan potret alam.

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Sejarah Universitas Diponegoro Semarang dengan fokus kajian pada historiografis kebudayaan transformasi Reyog Ponorogo. (KP Dhr SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *